Fisik Proyek Jalan Rp 30,2 M di Lembata Hanya 22 %

  • Share

Kupang, fajartimor.net – Realisasi Fisik Proyek Peningkatan Jalan Waijarang – Lamalera – Lebala (Segmen Waijarang – Watomiten – Loang) senilai Rp 30,2 milyar tahun anggaran 2016, hingga minggu ke-3 November hanya mencapai sekitar 22 persen. Padahal masa kontrak akan berakhir pada 30 November 2016.

Informasi yang dihimpun fajartimor.net, dalam rapat evaluasi proyek-proyek yang dibiayai dari APBD  Lembata tahun 2016, hingga minggu ke-3 November 2016, realisasi fisik proyek senilai Rp 30,2 M yang dikerjakan oleh PT. Trans Lembata tersebut hanya mencapai sekitar 22 persen.

“Dalam rapat evaluasi itu, terungkap bahwa realisasi fisik proyek Rp 30,2 M itu masih sangat rendah. Hanya sekitar 22 %. Padahal masa kontrak akan berakhir tanggal 30 November ini,” ujar sumber fajartimor.net yang juga mengikuti rapat evaluasi tersebut.

Menurutnya, dengan kondisi tersebut, PT. Trans Lembata tidak mungkin dapat menyelesaikan pekerjaan megaproyek tersebut. “Ben Tenty tidak mungkin dapat menyelesaikan pekerjaan tersebut. Karena itu Pemkab Lembata akan melakukan evaluasi di akhir masa kontrak untuk mengambil langkah-langkah selanjutnya,” tandasnya.

Beginilah kondisi fisik pekerjaan proyek Rp 30,2 Miliar yang dikerjakan PT.Trans Lembata (foto/dok.Boni Lerek)
Beginilah kondisi fisik pekerjaan proyek Rp 30,2 Miliar yang dikerjakan PT.Trans Lembata (foto/dok.Boni Lerek)

Seperti diberitakan sebelumnya, diduga uang muka sejumlah proyek dengan total nilai lebih dari Rp 100 milyar ‘dipotong’ sebesar 10 persen sebagai fee oleh oknum pejabat/mantan pejabat tinggi di Lembata untuk membiayai kegiatan politik paket tertentu dalam Pilkada. Akibatnya, pelaksanaan sejumlah proyek ‘berjalan di tempat’. Hingga awal November 2016, realisasi fisik sejumlah proyek tersebut sangat rendah.

Pantauan media ini selama 10 hari di Kabupaten Lembata, realisasi fisik beberapa proyek dengan total nilai lebih dari Rp 100 milyar masih sangat rendah (baca : fajartimor.net : Uang Muka Proyek Bernilai Rp 100 M Untuk Biayai Politik). Hingga awal Nopember 2016, proyek-proyek yang didanai APBN, APBD NTT dan APBD Lembata (DAK), realisasi fisiknya hanya sekitar 10 persen.

Sumber fajartimor.net yang sangat layak dipercaya, mengatakan, terjadinya keterlambatan realisasi fisik pekerjaan karena kontraktor pelaksana kesulitan keuangan. Hal ini diduga terjadi karena uang muka proyek sebesar 30 persen yang telah dicairkan, telah dipotong oleh oknum pejabat dan oknum mantan pejabat terkait sebagai fee sebesar 10 persen untuk membiayai paket tertentu dalam Pilkada Lembata.

Akibatnya realisasi fisik proyek berjalan di tempat. Kontraktor harus berutang material kepada pemasok karena uang muka tidak cukup untuk membiayai fisik pekerjaan hingga mencapai sekitar 45 persen (sebagai syarat pencairan dana proyek pada termin berikutnya, red). “Bahkan sejumlah proyek di Lembata menumpuk pada kontraktor ‘piaraan’ oknum pejabat tertentu hingga melebihi batas kemampuan kerjanya,” ujar salah satu pejabat di lingkup Pemkab Lembata ini.

Berdasarkan investigasi fajartimor.net, PT Trans Lembata merupakan salah satu kontraktor yang mengerjakan mega proyek di Lembata. Total nilai pekerjaan sesuai kontrak mencapai lebih dari Rp 60 milyar rupiah baik yang bersumber dari APBN, APBD NTT, maupun APBD Lembata.

Salah satu proyek yang dikerjakan oleh PT Trans Lembata adalah proyek Peningkatan Jalan Waijarang – Lamalera – Lebala (Segmen Watomiten – Loang) yang dibiayai dari APBD Lembata (DAK Reguler) tahun 2016 dengan nilai kontrak sekitar Rp 30,2 milyar.

PT Trans Lembata melaksanakan proyek ini sesuai Nomor kontrak PU.620/02/KONTRAK/PPK-BM-WWL/DPU/VI/2016, tertanggal 14 Juni 2016, nilai kontraknya Rp 30.215.264.000,-. Waktu pelaksanaan proyek selama 147 hari kalender (17 Juni 2016 s/d 30 Nopember 2016).

Namun sesuai pantauan media ini hingga awal November 2016, realisasi fisik proyek ini baru sekitar 10 persen. Pada jalan yang telah dilapisi hotmix (sekitar ratusan meter, red), telah terjadi degradasi dini alias terkelupas. Ketebalan hotmix hanya sekitar 2-3 cm.

Kualitas fisik pekerjaan pasangan tembok penahan jalan dan drainase di proyek ini, sangat rendah. Campuran semen hanya terdapat dibagian sisi luar pasangan (samping kiri-kanan dan atas, red). Sedangkan pada bagian tengah pasangan, tidak diberi campuran semen. Padahal seharus diberi campuran sebagai perekat pasangan. (ft/suaraflobamora/oni/ian)

  • Share