In Memoriam Pengusaha Dermawan Ence Kaling

  • Share

SoE, fajartimor.net – Gregorius Linner Tan terlahir dengan nama Tan Giok Ling atau sering di sapa Ence Ka’ling. Sosok Ence Ka’ling yang dikenal dermawan di semua lapisan masyarakat akhirnya tutup usia. Ence Ka’ling meninggal pada usia 85 tahun.

Almarhum Ence Ka’ling lahir di Niki-Niki 85 tahun lalu atau tepatnya 15 Oktober 1931. Sebagai putera ke dua dari delapan bersaudara, buah cinta Tan A Hin (Ayah/Alm) dan Lay Bu Moe (Ibu/Almh). Ence Ka’ling melewati masa kecil dan masa remajanya bersama kedua orang tuanya dan tujuh saudaranya.

foto alm Ence K'ling (In memoriam)
foto alm Ence K’ling (In memoriam)

Diusia dewasanya, Ence Ka’ling menemukan tambatan hatinya Lie Tjung Hoa lalu memutuskan membina bahtera rumah tangganya sejak 15 Agustus 1963. Dari buah pernikahannya, lahir 10 orang anak. Lima anak laki-laki dan lima anak perempuan. Dari kesepuluh anaknya lahir lagi generasi Tan Familly sebanyak 18 orang cucu.
Dalam kehidupan sosial masyarakat, Ence Ka’ling yang terlahir dari keluarga pengusaha dikenal low profile. Semenjak kecil, remaja dan dewasa, Almarhum mampu beradaptasi dengan semua kalangan baik di lingkungan keluarga pengusaha maupun seluruh lapisan masyarakat.
Keteladanan dan ketokohan yang terpatri dalam pribadinya dibuktikan dengan kepercayaan yang diberikan pemerintah dan masyarakat setempat guna memikul tanggung jawab sebagai ketua Rukun Tetangga Lete, Niki-niki sejak tahun 1970 sampai Alamarhum menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Siloam Kupang pada 24 Mei 2016 pukul 20.30 Wita.

anak anak alm Ence K'ling, (tengah Welem Tan atau oko Kung), saat mendapat penghargaan adat istimewah dari para tua adat dan keluarga besar kerajaan Amanuban(foto/dok.boni lerek)
anak anak alm Ence K’ling, (tengah Welem Tan atau oko Kung), saat mendapat penghargaan adat istimewah dari para tua adat dan keluarga besar kerajaan Amanuban(foto/dok.boni lerek)

“Masyarakat Berduka”
Masyarakat Niki-Niki Kecamatan Amanuban Tengah bahkan lapisan masyarakat di Kabupaten Timor Tengah Selatan merasakan duka yang mendalam atas kepergian almarhum Gregorius Linner Tan atau Tan Giok Ling atau Ence Kaling. Sejak di semayamkan di rumah Duka Jalan Timor Raya Niki-Niki, seluruh lapisan masyarakat tanpa henti melayat ke rumah duka sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Demi memenuhi hasrat masyarakat setempat, keluarga pun memutuskan pemakaman jenasah almarhum dilaksanakan pada Minggu, 29 Mei 2016 pukul 15.00 wita.
Paulus Mana Nitbani, salah satu tokoh masyarakat setempat kepada fajartimor mengatakan ketokohan dan keteladanan almarhum Gregorius Linner Tan diturunkan ayahnya almarhum Tan A Hin.
“Suka memberi, tidak membedakan antara yang kaya dan yang miskin, merangkul dan merawat masyarakat desa yang tidak berdaya adalah ciri laku almarhum Gregorius atau yang biasa disapa Ence Ka’ling. Karena kedekatannya yang luar biasa itu, almarhum justru mendapat penerimaan khusus dari warga dan masyarakat desa. Buktinya rumah almarhum selalu terbuka untuk umum”, jelas Paulus.
Paulus menambahkan mengenal sosok almarhum Gregorius adalah sebuah anugerah besar yang tak mungkin didapat orang kebanyakan. Karena selain dermawan, Almarhum Gregorius Linner Tan, adalah sosok ayah yang senantiasa menjaga marwah dan amanat ayahnya Almarhum Tan A Hin.
“Sebagai Tamukung (Wek Master), ayah almarhum Tan A Hin, adalah tipikal pemimpin yang bijak. Solusi yang diberikannya selalu benar dan tepat. Hal Itupun diambil lurus almarhum Gregorius. Ciri laku, langkah laku, tindakan kemanusiaan tanpa beda suku, agama, ras dan antar golongan terus dijaga dan diturunkan kepada ke sepuluh (10) anaknya. Kalau saya boleh jujur, almarhum tidak sekedar meninggalkan nama tapi almarhum meninggalkan sejumlah perbuatan kemanusiaan yang patut ditiru generasi muda”, terang Paulus.
Almarhum Gregorius Linner Tan, kata Paulus (mantan kepala desa Noenoni periode 1989 hingga akhir 2000), rupanya sudah tahu waktu Tuhan akan datang. Oleh karena itu jauh jauh hari almarhum Gregorius sudah mempersiapkan dirinya demi menjawab panggilan Ilahi.
“Sebelumnya almarhum meminta dirinya dibaptis secara Katolik untuk dilayakkan menerima sejumlah sakramen seturut ajaran iman Katolik. Almarhum Gregorius diterima dalam keluarga besar gereja Katolik Roma kurang lebih dua (2) bulan lalu. Informasi yang saya peroleh almarhum hanya menitip pesan kepada anak anaknya agar dikebumikan tepat pada hari Minggu”, tutup Paulus.

tiupan terompet ala kerajaan Amanuban mengiringi arak arakan jenazah Ence K'ling menuju ke tempat peristirahatannya yang terakhir(foto/dok.boni lerek)
tiupan terompet ala kerajaan Amanuban mengiringi arak arakan jenazah Ence K’ling menuju ke tempat peristirahatannya yang terakhir(foto/dok.boni lerek)

Karena kebiasaan mengdepankan Budaya (adat) Amanuban khususnya dan TTS pada umumnya, maka oleh rakyat setempat selain Sonaf (Rumah) Raja, Rumah alm. Ence K’ling atau Gregorius Linner Tan pun kemudian dijadikan sebagai sonaf (rumah) raja. Dan sebelum dimakamkan di tempat peristirahatannya yang terakhir, seromi adat ala kerajaan dilakukan para tua adat dan keluarga kerajaan Amanuban sebagai bentuk penghormatan terakhir. Selamat jalan Ence K’ling, jasa jasa-mu kan selalu dikenang. (ft/Boni Lerek)

  • Share