‘Kasus Hukum Christian Fanda; Sampah Daur Ulang?’

  • Share

(Bagian 13)

Kupang, fajartimor.net – Jaksa Penuntut Umum, Umarul Faruq dalam perkara A Quo dengan Terdakwa Christian Fanda hari ini, Selasa (8/05/2018) dibuat tak berdaya oleh Saksi Fakta yang dihadirkannya dalam persidangan yang berlangsung alot hingga pukul 06.05 Wita.

Dua Pengacara Terdakwa Christian Fanda, Edward Theorupun dan Amos Alexander Lafu yang terlihat mencecar saksi fakta baik Kristin Fanda dan Ardi Umbu Pandangara dengan sejumlah pertanyaan prinsip justru berujung dua saksi fakta tersebut menolak mentah mentah BAP penyidik yang termuat dalam dakwaan jaksa di fakta persidangan.

laporan polisi ini menjadi perhatian serius Yaskum Menkunham NTT dan akan ditindaklanjuti. foto.istimewa.

“Di fakta persidangan justru terungkap kalau Saksi Fakta atas nama Kristin dan Ardi Umbu termasuk dua orang lainnya yang semulanya dihadirkan sebagai saksi meringankan justru dibuat terbalik penyidik sebagai saksi fakta dan itu terbaca di surat dakwaan Jaksa yang kemudian ditolak oleh kedua saksi tersebut”, jelas Amos.

Sepanjang persidangan kata pengacara muda tersebut, Jaksa Penuntut Umum terlihat sulit membuktikan dakwaannya kepada Terdakwa Christian Fanda.

“Jaksa Penuntut Umum kelihatan tidak mampu membuktikan tudahan persetubuhan anak dibawah umur kepada Terdakwa Christian Fanda. Dalilnya yakni kedua orang saksi fakta yang dihadirkannya (Kristin dan Ardi Umbu) konsisten mengatakan kalau tanggal 24 Maret 2017, tanggal dakwaan terjadinya persetubuhan anak dibawah umur seperti yang tertulis dalam surat dakwaan, bersikeras jika hari itu mereka ada di rumah seharian. Tidak ada persoalan di rumah yang dijadikan TKP persetubuhan. Dakwaan yang dibuat penyidik justru baru diketahui di fakta persidangan dan dakwaan itu tegas ditolak”, terang Amos.

Hal unik dan diluar substansi tuduhan persetubuhan ucapnya justru dilakukan Jaksa Penuntut Umum Umarul Faruq.

“Koq dalam dakwaan yang dituduhkan kepada klien kami persetubuhan anak dibawah umur. Yang dikejar dari keterangan Saksi fakta malah tindak penganiayaan. Ini khan jelas minor. Semestinya jaksa konsisten dengan dakwaannya. Jangan lalu seenak perut arahkan ke penganiyaan untuk kemudian memuluskan akal bulus ada teriakan dari Saksi Korban Mirawati”, sinis Amos.

Dikatakan Soal tindakan penganiayaan dari pertanyaan prinsip yang dilontar Pengacara Terdakwa Christian Fanda, kepada kedua saksi fakta yang dihadirkan jaksa rupanya didapatkan pengakuan unik jika ibu Saksi Korban Mirawati yang berdomisili di Oesao rupanya yang berinisiatif memohonkan permohonan maaf.

“Dari kesaksian kedua saksi fakta tersebut terkuak kalau inisiatif damai dari istri Terdakwa Christian Fanda yang mendatangi kediaman ibu kandung saksi korban bersama Terdakwa malah berubah permohonan maaf dari ibu saksi korban atas tindakan yang tidak patut dari anaknya (Mirawati saksi korban) yang lancang meminta uang melalui sms kepada Terdakwa di jam 11 malam. Dan ketika kita kejar dengan pertanyaan soal apakah dari inisiatif permohonan maaf kedua belah pihak (Istri Terdakwa dan Ibu Kandung Saksi Korban) juga disinggung soal persetubuhan seperti yang dituduhkan? Jawaban kedua saksi fakta mengatakan ‘Tidak’. Lalu pertanyaannya Jaksa Penuntut Umum mau arahkan kemana kasus ini”, ungkap Amos.

Kedua Saksi Fakta di fakta persidangan hari ini juga mengatakan kekagetannya atas tuduhan persetubuhan yang dialamatkan kepada Ayahanda mereka Terdakwa Christian Fanda.

“Yang mereka tahu adalah adanya upaya perdamaian atas tindakan spontan penganiayaan dan itu pun diketahui saat menghadiri perdamaian di Oesao. Namun kekagetan mereka justru nampak saat dihadapan penyidik Polda NTT.

“Difakta persidangan terungkap dari mulut kedua saksi fakta kalau mereka rupanya dihadirkan untuk memberikan keterangan terkait tuduhan persetubuhan atas Mirawati. Yang terjadi justru diluar dugaan kedua saksi fakta. Keterangan meringankan Terdakwa Christian Fanda justru berujung memberatkan Terdakwa. Atas kejanggalan keterangan dalam dakwaan Jaksa, keduanya tegas menolak”, beber Amos.

Setelah pemeriksaan dua saksi fakta lainnya (Bapa Aluddin dan mama Sau), Seijin majelis hakim, Saksi Verbal atau Penyidik diharapkan untuk hadir di fakta persidangan perkara A quo ini.

“Banyak kejanggalan yang kita temukan terkait keterangan saksi fakta yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum di fakta persidangan ini. Oleh karena itu kita  Tim Pengacara Terdakwa Christian Fanda akan meminta Majelis Hakim Yang Mulia untuk menghadirkan Saksi Verbal atau Penyidik Polda NTT untuk menguak sejumlah kejanggalan tersebut. Dan Mereka harus bertanggungjawab atas kejanggalan kejanggalan yang kita maksud ini”, pungkas Amos. Bersambung….(ft/tim)

  • Share