‘Kasus Hukum Christian Fanda; Sampah Daur Ulang?’

  • Share
laporan polisi ini menjadi perhatian serius Yaskum Menkunham NTT dan akan ditindaklanjuti. foto.istimewa.

(Bagian 22)

Kupang, fajartimor.net – Kata lelaki hidung belang dia itu Bunga Sedap Malam. Namun kata terhukum Oni Zakarias yang terungkap di fakta persidangan perkara A Quo Terdakwa Christian Fanda pada Selasa (21/05/2018), Saksi Korban Mirawati dinilainya sebagai ‘Pemain’.

Kesaksian jonius Jacob Zakarias, saksi Mahkota Jaksa Penuntut Umum, Umarul Faruq di persidangan kemarin begitu mengejutkan. Majelis Hakim yang berusaha menekan yang bersangkutan untuk tidak berbicara banyak tidak digubris, jelas seorang saksi kunci yang mendengar secara saksama jalannya persidangan kepada fajartimor.

Saksi Jonius Jacob Zakarias atau yang biasa di sapa Opa Oni Zakarias katanya justru bernyanyi tanpa tendeng aling aling seder basah basih.

laporan polisi ini menjadi perhatian serius Yaskum Menkunham NTT dan akan ditindaklanjuti. foto.istimewa.

Dihadapan Majelis Hakim Saksi Oni Zakarias malah berbicara lantang kalau penyidik yang mem-BAP dirinya telah berlaku tidak adil. Ketidakadilan itu dipernyatakan secara tegas di fakta persidangan atas jawaban dirinya saat memberikan keterangan khususnya di poin 18 yang rupanya sudah diisi sendiri oleh penyidik.

“Formulasi Pertanyaan dan Jawabannya yang dimaksud dan terungkap di fakta persidangan adalah; Apakah Saudara melihat langsung persetubuhan antara Saudara Christian Fanda dan Saudari Mirawati, dan dijawab; Ya saya melihat langsung dan memberikan uang Rp 150 ribu rupiah. Pertanyaan dan jawaban tersebut diprotes Jonius Jacob Zakarias lalu dijawab penyidik dengan alasan mengantuk. Hal ini di ungkap saksi Oni Zakarias”, terangnya.

Di fakta persidangan ucapnya, Saksi Oni Zakarias malah menuding sang penyidik dihadapan Majelis Hakim sebagai yang akan selalu menyusahkan banyak orang.

“Yang unik, saat ditanya Majelis Hakim, apakah saksi Oni Zakarias mengenal Saksi Korban Mirawati, jawaban Saksi Oni Zakarias justru menohok kalau Mirawati dikenalnya sebagai Pemain”, ungkapnya.

Dikatakan, tantangan lainnya yakni visum et repertum tuduhan persetubuhan yang kuat dugaan didapat pada tanggal 31 Maret 2017, dan kemudian diketahui selain dimasukan dalam dakwaan Terdakwa Christian Fanda, justru ada dalam dakwaan penganiayaan istri Terdakwa terhadap saksi korban Mirawati juga dakwaan terhukum Jonius Jacob Zakarias.

“Bila hal ini benar terjadi, dilema besarnya, apakah memang patut di mata hukum atau tidak? Hanya Hakim, Allah, Alam dan Arwah Leluhur yang tahu”, sanksinya.

Dokter yang mengeluarkan visum tersebut lanjutnya, sebenarnya wajib dihadirkan di fakta persidangan untuk didapatkan penjelasan akuntabel.

“Bila terbukti ada ketidakobjektifan maka sanksi kode etik adalah solusinya”, tegasnya.

Terkait kasus hukum Christian Fanda yang penuh onak dan duri tersebut, dirinya berharap public disilahkan membuka mata dan mulailah cerdas, cermat juga angkat bicara.

“Ini pintu masuk rakyat dan perwakilannya angkat bicara. Jangan biarkan hukum positif berjalan tanpa arah dan lalu mencederai rakyat NTT karena ujungnya tanggung renteng”, sarannya.

Mata public NTT, Indonesia bahkan Dunia kini yakinnya, tertuju kepada Majelis Hakim yang menangani perkara A Quo Terdakwa Christian Fanda.

“Dengan sejumlah realita yang terpapar di fakta persidangan, sangat kecil sekali kemungkinannya ada pengingkaran. Kalau pun terjadi pengingkaran dan Terdakwa Christian Fanda diputuskan bersalah maka simpulnya jelas, ada sesuatu yang besar sekali dibalik kasus salah alamat yang dialamatkan kepada Terdakwa Pewaris Tunggal Tanah peninggalan almarhum Jacob Fanda di daerah Pan Muti dengan sejumlah selentingan, lagi diperebutkan oleh spekulan abad ini. KPK RI kayaknya sudah bisa masuk”, pungkasnya. Bersambung…..(ft/tim)

  • Share