‘Kasus Hukum Christian Fanda; Sampah Daur Ulang?’

  • Share

(Bagian 24)

Jakarta, fajartimor.net – Jika sebuah proses Penyelidikan dan Penyidikan Tindak Pidana tidak mengikuti fase dan tahapannya karena alasan perkaranya sudah lama, maka proses tersebut dianggap cacat dan batal demi hukum.

Alasan saksi verbalisan di fakta persidangan soal tidak adanya Olah Tempat Kejadian Perkara dan penyitaan barang bukti atas tuduhan persetubuhan dan penganiayaan yang dialamatkan kepada Terdakwa Christian Fanda mengisyaratkan ada begitu banyak tahapan penyelidikan dan penyidikan yang secara sadar dilangkahi. Itu sama artinya dengan tidak ada persetubuhan yang sebelumnya didahului tindak penganiayaan. Dan terhadap fakta hukum tersebut, semua yang berhubungan dengan perkara A Quo Terdakwa Christian Fanda harus batal demi hukum, terang Gabriel Goa, Direktur Padma Indonesia juga ketua Kompak NTT kepada fajartimor, Jum’at (25/05/2018).

Saksi Verbalisan, Yustina Tince, dihadirkan jaksa di Perkara A Quo Terdakwa Christian Fanda (foto istimewa)
laporan polisi ini menjadi perhatian serius Yaskum Menkunham NTT dan akan ditindaklanjuti. foto.istimewa.

Menurutnya, Jawaban Saksi Verbalisan di fakta persidangan soal tidak dilakukannya Olah TKP dan Penyitaan Barang Bukti karena kasusnya sudah lama tidak bisa diterima.

“Ini kan tuduhan kemanusiaan. Tertuduh sudah pasti akan mendapat kecaman public malah dihukum public dengan selaksa cacian dan makian. Jadi alasan soal kasusnya sudah lama adalah alasan pribadi sang saksi verbalisan yang juga tidak termuat dalam Undang undang Pidana termasuk Perkapri nomor 14 tahun 2012”, jelas Gabriel.

Dengan tidak dilakukannya olah TKP dan penyitaan barang bukti atas tuduhan persetubuhan tersebut, justru akan berimplikasi pada sejumlah format pembuktian.

“Kalau tidak ada olah TKP maka tidak ada berita acara olah TKP. Kalau tidak ada penyitaan barang bukti maka tidak ada berita acara penyitaan barang bukti. Kalau tidak ada konfrontasi di TKP maka tidak ada berita acara konfrontasi. Begitupun Interview dengan saksi melihat, mengalami dan merasakan jika tidak dilakukan di TKP maka ikutannya tidak ada berita acaranya”, tandas Gabriel.

Bicara tentang pelabelan barang bukti, penyerahan barang bukti, penitipan barang bukti katanya menjadi bagian dari benang merah kasus pidana yang tidak bisa dipandang remeh.

Saksi Korban Mira Lainu bersama bibinya saksi Fatima, terlihat asik bermain lempar batu sembunyi tangan, sambil tertawa ngakak tanpa ada yang mengganggu, tapi saat hadir di Pengadilan Negeri Kelas 1A Kupang, dikawal sejumlah orang yang katanya dari Mabes dan LPSK (foto/dok.Boni)

“Dilema hukumnya, saat penyerahan tersangka dari penyidik ke kejaksaan apakah disertai dengan penyerahan barang bukti atau tidak sama sekali. Bila hal prinsip ini tidak ada maka seluruh fakta hukum yang sudah terjadi termasuk visum et repertum dapat dikatakan sebagai yang cacat hukum”, tegas Gabriel.

Fakta hukumnya ucapnya, Terdakwa Christian Fanda sudah dan sementara mendapat hukuman dari masyarakat NTT. Dirinya kinipun sementara menjalankan kurungan badan.

“Pembuktian di fakta persidangan semestinya didalami tanpa dibatasi sehingga semuanya menjadi terang benderang. Pengacara Terdakwa harus piawai meyakinkan Majelis Hakim agar tidak terkesan ada yang ditutup tutupi. Bila perlu hadirkan Komisi Yudisial agar bisa memantau langsung jalannya persidangan”, anjur Gabriel.

Dikatakan, inti sari dari sebuah proses peradilan adalah mencari kebenaran materil agar seseorang bisa di vonis bersalah atau tidak.

“Di fakta persidangan harus bisa diungkap kebenaran materil atas kasus persetubuhan yang dialamatkan kepada Terdakwa Christian Fanda. Namun fakta yang tidak bisa dihindari soal tidak adanya olah TKP, penyitaan barang bukti yang berimbas pada tidak adanya sejumlah berita acara, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya tuduhan persetubuhan tersebut hanyalah rekaan dan kuat dugaan berbau manipulatif dan rekayasa. Jaksa penuntutnya pasti sadar dan tahu benar”, sinis Gabriel.

Majelis Hakim lanjutnya yang mengadili perkara tersebut sudah tentu punya segudang referensi hukum kaitannya dengan perkara pidana khusus tuduhan persetubuhan.

“Kondisi di fakta persidangan yang ketiadaan sejumlah bukti materil yang nantinya dinilai sebagai unsur yang memberatkan semestinya sudah menjadi pertimbangan Majelis Hakim. Nurani Hakim menjadi taruhannya. Hemat saya, kasus tersebut cacat proses dan cacat hukum. Terdakwa Christian Fanda harus dibebaskan dari segala tuntutan dan namanya harus dipulihkan”, tantang Gabriel. Dan menambahkan Padma Indonesia yang berkedudukan di Jakarta akan terus mengawal kasus tersebut hingga tuntas karena tuntutan We Are The Voice of The Voiceless. Bersambung….(ft/dian)

  • Share