‘Kasus Hukum Christian Fanda; Sampah Daur Ulang?’

  • Share

(Bagian 35)

Kupang, fajartimor.net – Tuntutan pidana 10 tahun kepada Tersangka/Terdakwa Christian Fanda oleh JPU Umarul Faruq adalah tuntutan aneh dan unik. Karena ralitanya, di sepanjang fakta persidangan, bukti sah atas tuduhan perkosaan atau persetubuhannya nihil et nihilo (sama sekali tidak ada alias nol).

Atas realita tuntutan JPU dengan dasar fakta persidangan juga keterangan saksi korban dan saksi de au dito tentu harus disikapi secara serius oleh Pengacara Terdakwa Chrstian Fanda jelas Wili Preis S.Fil, SH, M.Kn, MH kepada fajartimor, Sabtu (30/06/2018).

Menurutnya, dengan membaca secara cermat jalannya persidangan seturut fakta pemberitaan media, jelas tersirat adanya dakwaan JPU yang diurut-urut namun tidak bisa dibuktikan di fakta persidangan.

“Semestinya 10 tahun tuntutan pidana yang dialamatkan kepada Terdakwa Christian Fanda, harus diikuti dengan dasar pembuktian di fakta persidangan! Praktisi hukum siapa saja pasti terkaget-kaget dengan kenyataan tuntutan JPU tersebut! Karena hampir bisa dipastikan tuntutan yang tidak memenuhi unsur kepantasan ini lebih kepada asumsi JPU dan jauh malah diluar jalur koridor hukum pidana”, kritiknya.

Bila semua kasus pidana katanya yang cara penanganannya seperti kasus Terdakwa Christian Fanda maka alangkah luar biasanya fakta hukum di NTT.

“Akan ada banyak korban lainnya jika memang benar realita hukum seperti ini yang berlaku di NTT. Jaksa yang menangani kasus tersebut sudah selayaknya di periksa komisi kode etik Kejaksaan. Bila ditemukan ada pelanggaran sebaiknya di beri sanksi dan tindakan tegas”, sarannya.

Sementara Terdakwa Christian Fanda yang ditemui fajartimor di ruang isolasi pengadilan negeri setempat, Jum’at (29/06/2018) mengatakan akan melakukan perlawanan dengan membuat testimoni.

“Di fakta persidangan saat mendengar tuntutan JPU, saya justru melakukan protes keras dan mengatakan secara terus terang kalau kasus saya ini penuh rekayasa akibat persoalan tanah di daerah Tenau yang hendak di caplok seorang petinggi di Negara ini dengan menggunakan tangan para pelayan hukum dan seorang pengusaha NTT berinisial MF”, jelas Christian.

Pembelaan prinsip tentu akan dilakukan ucapnya dengan mengemukakan sejumlah bukti yang sepanjang ini telah dilayangkannya ke Lembaga-lembaga hukum terkait di Jakarta.

“Atas saran Majelis Hakim, semua bukti itu akan saya jelaskan secara tersendiri pada testimoni dan pembelaan pribadi, termasuk pengakuan JPU yang datang menemui saya sambil mengatakan permohonan maaf  atas tuntutannya yang syarat tekanan pimpinan”, terang Christian.

Terdakwa Christian Fanda yang terlihat mengeluarkan air mata rupanya ikut menghanyutkan keluarga yang kemudian terlarut dalam tangisan pilu.

Christian Fanda yang bersikeras tersangkut rekayasa pihak-pihak elit politik atas kasus yang di sangkakan kepadanya, yang berkepentingan dengan tanah miliknya di daerah Tenau yang akan dibangun Tol Laut tersebut, terus berdoa memohonkan keadilan dari Allah, Alam dan Arwah Leluhur. (ft/tim)

  • Share