Maraknya Anak-Anak Penjual Koran, Aktivis Kritisi Media Massa NTT

  • Share

Kupang, Fajartimor.com,- aktivis peduli perempuan dan anak dari Yayasan Obor Timur Ministry, Fony Mella kritisi pihak media cetak yang diduga tidak tegas membuat kesepakatan dengan para loper koran yang menyebabkan masih adanya anak yang menjadi penjual koran.

“Yang mereka jual itu tiga koran cetak di NTT tetapi faktanya, media diam, intinya koran laris. Seharusnya Pemred buat MoU dengan loper koran, bahwa tidak boleh kerjakan anak bawah umur. Sanksinya jika dilanggar, si loper koran tidak boleh lagi menjual koran mereka,” ujarnya saat konferensi pers Forum Komunikasi Wilayah Partisipasi Publik Untuk Perlindungan Perempuan dan Anak (Forkomwil Puspa) NTT di Kupang, Selasa (23/7/2019).

Fony mengatakan, sejak 2011 pihaknya telah bekerja sama dengan dinas sosial mengatasi anak-anak jalanan yang diduga dikerjakan orangtuanya yang merupakan loper koran sebagai penjual koran.

Berkat sosialisasi dan pembinaan, sebanyak 200 anak jalanan sudah kembali bersekolah. Bahkan, lima dari anak-anak itu dibiayai hingga ke perguruan tinggi.

Ironisnya, hingga kini anak-anak yang diperkerjakan sebagai penjual koran terus saja terjadi di NTT. Menurut dia, hal itu terjadi lantaran media massa sebagai private sektor mendiamkam fakta miris itu terjadi.

“Waktu itu sudah sempat kita lakukan rapat bersama dengan pihak pemerintah dan juga pihak media cetak dan juga kita sudah sampaikan usul saran tapi sepertinya tidak di respon” Jelasnya.

Lebih lanjut menurutnya, dari pihak pemerintah sendiri belum terlalu fokus untuk melakukan penanganan terhadap pekerja anak.

“Padahal ada Perda soal ini tapi saya lihat tidak ada penanganan yang serius dari pihak pemerintah, masih lemah. Seharunsnya ada satu kesatuan untuk menangani kasus ini”. Ujarnya.

Pada tempat yang sama, Twen Dami Dato Akademisi dari Fakultas peternakan Undana, menekankan bahwa selain pekerja anak, persoalan utama juga adalah stunting. Sehingga melalui forum ini mereka berusaha melakukan kerja nyata untuk mencegah terjadinya stunting.

“Kita dalam forum ini melihat stunting ini mulai dari kesenjangan ekonomi keluarga. Maka locus kita itu di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dimana, disana ada anak-anak yang sering bermain di tempat yg kotor dan untuk penanganan disana kami baru sampai pada pengolahan bahan-bahan organik (sampah) untuk pemenuhan ekonomi keluarga”. Jelasnya.

Menurutnya, dengan memberian fokus perhatian kepada anak-anak di TPA Alak kiranya dapat mencegah persoalan stunting.

Forum Komunikasi Wilayah Partisipasi Publik Untuk Perlindungan Perempuan dan Anak (Forkomwil Puspa) NTT sendiri baru berjalan selama 1 tahun. Dimana, forum ini hadir sebagai bentuk keprihatinan akan kasus-kasus kekerasan terhadap anak di Provinsi NTT yang sangat meresahkan, memprihatinkan dan sangat menggugah kepedulian kemanusiaan. (Do/ft)

  • Share