Markus Alibrandi: Harus Ada Kesepakatan antara Kristo Blasin dan Lusia Adinda Lebu Raya!

  • Share

Kupang, fajartimor.net-Kesepakatan bernuansa menang menang, kalah kalah antara sosok Kristo Blasin dan Lusia Adinda Lebu Raya sebagai bakal calon Gubernur NTT, pasca bergulirnya sejumlah nama calon Gubernur ditanggapi serius para pegiat politik.

Markus Alibrandi, salah satu tokoh politik, pegiat organisasi PKBI, sosok yang sudah makan garam di dunia politik dan kemampuannya sudah sangat terukur kepada fajartimor, di kantor PKBI, Jum’at (19/2) mengatakan Jika benar informasinya bahwa sosok Andreas Hugo Pareira salah satu pengurus DPP PDI Perjuangan tidak ingin mencalonkan dirinya sebagai kandidat (calon) Gubernur NTT, maka hanya ada dua nama kandidat kuat yaitu Kristo Blasin dan Ibu Lusia Adinda Lebu raya.

Kristo Blasin dan Lusia Adinda Lebu Raya, duduk berdampingan dengan tokoh Maumere/Sikka, Akri Deodatus dan Ignasius Konterius, pada sebuah acara yang dihelat RAKKIT SIKKA. (foto/dok.boni lerek)
Kristo Blasin dan Lusia Adinda Lebu Raya, duduk berdampingan dengan tokoh Maumere/Sikka, Akri Deodatus dan Ignasius Konterius, pada sebuah acara yang dihelat RAKKIT SIKKA. (foto/dok.boni lerek)

“Tesis dasarnya ya mereka berdua harus  bersepakat, Siapa yang maju. Karena kita tidak mungkin menyodorkan satu nama. Mau Kristo, Andre ataupun Ibu Lusia ya didorong sehingga ketika mengerucut pada satu nama, ya kita pun kemudian wajib hukumnya bersatu untuk bekerja demi meraih dukungan penuh dari Rakyat Nusa Tenggara Timur. Saya kira itu saja kuncinya”, tegas Alibrandi.

Terkait figur Kristo Blasin dan Lusia Adinda Lebu Raya, kata Alibrandi, ada saja keunggulan keunggulan termasuk sejumlah kekurangan kekurangannya.

Menurut Alibrandi,  figur Kristo Blasin adalah figur kuat, jujur, bersih, mampu menjembatani semua kepentingan.

“Keunggulan pak Kristo, semua kalangan akan menerima dia. Figur seperti Kristo ini, figur yang netral, yang bisa diterima kalangan gereja. Intinya semua etnis suku, agama dan golongan apapun bentuknya akan menerima kehadirannya. Dan itu keunggulan yang dimiliki Kristo Blasin.  Hanya saja kekurangan dia ya tidak berani saja. Naluri dan keberanian politiknya harus didorong. Saya sangat keccewa, jika dalam diskusi, beliau justru diplomatis memberi pernyataan tantangan politis seolah olah ada sesuatau yang mengganjal, termasuk menyebut orang. Dia harus menyatakan secara tegas bahwa saya maju. Dan itu harus keluar dari mulutnya. Dia tidak kemudian melempar bola kesana dan kesini Itu saja. Dia harus bilang saya siap maju sehingga popularitasnya naik, karena nanti yang lain lainnya menjadi tanggungjawab tim kerja.”.

Sementara ibu Lusia, lanjut Brandi adalah figur yang bisa dibilang sudah sangat siap bertarung.

“Saya kira semua hal dia siap. Sedangkan minusnya itu, bagi kelompok menengah keatas, akan selalu ada kampanye hitam. Itu saja. Memang dari sisi teori, undang undang tidak pernah melarang hal itu. Dia punya hak politik dan sebagainya. Tapi budaya kita khan beda. Itu saja sebetulnya. Yang bekerja mesti solid, kuat dan lalu meyakinkan bahwa dia pantas menjadi Gubernur”, terang Alibrandi.

Dikatakan Alibrandi, kemasan isu yang akan dirancang lawan untuk melemahkan figur Lusia Adinda Lebu Raya adalah hal prinsip yang perlu menjadi perhatian serius.

“Untuk meredam isu miring kita tidak bisa berpatokan pada dalil undang undang tentang hak politik dipilih dan memilih. Kalau untuk meredam itu, trus dalilnya undang undang sangat memungkinkan maka pertanyaannya orang di kampung apakah mengerti undang undang. Ha, orang kampung tidak ngerti itu. Kalau dia bilang ah masa adiknya calon wakil wali kota, cape kita. Kemudian istri Gubernur Lebu Raya menjadi wakil gubernur khan cape kita. na ketika hal itu pun ikut dihembus, saya kira akan sangat berpengaruh. Apalagi pemilih tradisional di masa kini, sudah cerdas memilih. Sementara disisi lain media social secara efektif sudah masuk sampai pedalaman. Belum lagi orang orang muda berpendidikan banyak bermukim di pedalaman desa. Dan saya kira isu minor akan sangat kuat dikemas dan efektif memicu lemahya ataupun menurunnya bahkan tidak ada dukungan sama sekali kepada sosok Lusia Adinda Lebu Raya khusus para pemilih tradisional”, beber Alibrandi.

Hal yang perlu diketahui juga ucap Alibrandi, Lusia Adinda Lebu Raya adalah sosok Perempuan atau wanita yang memiliki segudang prestasi.

“Dari sisi keilmuan, jejaring, ibu Lusia tidak seperti ibu rumah tangga pada umumnya. Dia aktifis, guru agama, pegiat pada sejumlah organisasi. Aktifitasnya lebih condong dilingkungan pendidikan anak, lansia, masyarakat pinggiran. Dari sisi strata, sekarang dia (Lusia Adinda Lebu Raya) siap menyelesaikan kuliah Doktornya. Saya kira dia pantaslah masuk bursa calon gubernur dan sepantasnya diperjuangkan”, pungkas Alibrandi. (ft/boni)

  • Share