“NTT harus bisa Menunjukkan Kekhasan Parwisatanya”

  • Share

(James Borris Warga Australia bersama sekretaris dinas Pariwisata prov. NTT, Welly Rohimone, Foto/dok.bony lerek)

Kupang, fajartimor.net-Sekalipun ada begitu banyak pengaruh luar yang datang silih berganti, namun pariwisata NTT, harus bisa menunjukkan kekhasannya dengan terus mengangkat tema keanekaragaman budaya setempat.

Pasar pariwisata Nusa Tenggara Timur terus menjejal inovasi. Sejumlah pembanding gencar dilakukan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif prov. NTT. Kiat menarik minat touris manca negara menjadi alasan utama dilakukannya Temu Pemasaran Pariwisata sebagai Pintu Masuk Utama.

Hal tersebut, disampaikan Welly Rohimone sekretaris Dinas Pariwisata di hotel Ima (14/7) disela sela kegiatan Temu Pemasaran Pariwisata di Pintu Masuk Utama Kupang dan Sekitarnya (Khusus wilayah kabupaten Timor Tengah Selatan, Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Sabu Raijua, Kabupaten Kupang, Kabupaten Alor dan Kota Kupang).

“Temu Pemasaran Pariwisata menjadi awal kebangkitan pasar pariwisata NTT. Dari kegiatan ini, diharapkan ada sejumlah kebijakan yang nantinya dicetuskan dalam rangka mengembangkan pasar pariwisata. Tidak muluk muluk, tapi langkah langkah nyata membangun kemitraan dengan sejumlah stake holder, baik kelompok budaya, sanggar seni, asosiasi perhotelan dan sejumlah lembaga pemerhati pariwisata NTT, sudah dan sementara kita galakkan. Tentunya keterlibatan pemerintah pusat dalam memberi perhatian serius terhadap perkembangan destinasi pariwisata di NTT menjadi harapan pemerintah daerah”, jelas Welly.

Sebagai poros tengah destinasi wisata touris manca negara, Nusa Tenggara Timur perlu berbenah diri.  “Sejumlah regulasi yang berhubungan dengan pariwisata NTT menjadi fokus perhatian kita. Dan kita berharap dengan dipasarkannya pariwisata di Nusa Tenggara Timur, ke depan, Kupang harus menjadi pintu masuk Pariwisata. Itu artinya, akan ada penerbangan Kupang-Darwin, Kupang-Timor Leste, Kupang-Denpasar dan seterusnya”, terang Welly.

Sementara, James Borris, warga Australia yang diundang secara khusus oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT mengatakan pengalaman sebagai touris manca negara baik di Papua Nugini, Bali, Lombok, Jogja dan sejumlah negara tujuan wisata, Nusa Tenggara Timur menurutnya masih memiliki kekhasan budaya. Dan kekhasan itu terlihat jelas pada Etnic etnic lokal yang perlu mendapat perhatian khusus. “Kalau Hotel hotel ataupun penginapan (home stay, bungalow, wisma dan sejenisnya), dibangun dengan mengedepankan konstruksi hunian masyarakat lokal, saya sangat yakin, hal itu akan menarik minat touris asing”, ucap James.

Selain itu James Borris mengatakan keunikan budaya NTT, dalam rangka pemasaran pariwisata perlu didorong ke area Hotel hotel berkelas. “semua bentuk pelayanan Hotel hotel berkelas di kupang, baik pelayan hotel, pajangan, hiasan, assesoris hotel, termasuk menu makanannya dikemas secara baik dan teratur, dengan mengedepankan kearifan lokal NTT. Karena itulah yang akan menarik minat touris manca negara, selain kindahan alam dan panoramanya”, terang James.

Kenyamanan, keamanan dan kebersihan kota daerah tujuan wisata lanjut James merupakan sesuatu yang mutlak dan perlu mendapat perhatian khusus pemerintah dan warga lokal. “Bali 20 tahun ke depan bukan lagi menjadi daerah destinasi wisata. Karena tingkat kenyamanan dan kebersihan sudah tidak lagi diperhatikan. Oleh karena itu NTT harus bisa berelaborasi dalam memajukan wisata yang lebih menitikberatkan pada kearifan lokal, tak lupa terus menjaga kenyamanan, keamanan dan kebersihan kota tujuan wisata, termasuk terus mengangkat tema keanekaragaman budaya setempat”, papar James.

Temu Pasar Pariwisata di Pintu Masuk Utama Kupang dan sekitarnya kemudian dikuti dengan pengukuhan dan pelantikan Badan Pengurus Daerah Perhimpunan Hotel Republik Indonesia ( BPD PHRI NTT), periode 2015-2020, yang juga berlokasi di Hotel Ima Kelurahan Kelapa Lima Kota Kupang. (ft/bony)

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Share