O2SN NTT; Proyek Dinas P&K?

  • Share
Kadis P&K NTT, Drs.Sinun Petrus Manuk

Kupang, fajartimor.net-Hitungan matematis, “dua tamba dua sama dengan empat”. Dan kemudian dirasionalisasi, “hasil di kali”, mendapatkan pengertian: pasir, batu, kerikil, udang, kepiting, kayu, layak dialamatkan kepada Panitia dan Penyelenggara O2SN NTT.

Alasannya sederhana. Besaran biaya (antara: Rp 1 milyar hingga Rp 2 Milyar lebih) yang dialokasikan pemerintah dan Parlemen, justru diduga dimanipulir.

Proses dan tahapan seleksi di tingkat O2SN Provinsi, disinyalir sebagai formalitas belaka. “Orang orang yang terlibat didalam kepanitiaan adalah orang orang yang sama, pola kerjanya sama, dan memiliki kepentingan yang sama pula”.

Keluhan pengurus dan panitia O2SN kabupaten/Kota, atas ketidakadilan yang dirasakan diabaikan begitu saja.

Kepada fajartimor.net, salah seorang pejabat teras dari kabupaten yang enggan namanya disebutkan mengatakan beban biaya O2SN kabupaten/Kota, menjadi beban para guru. “bentuk ketidakadilan pada sejumlah cabang atlit yang dipertandingkan di O2SN Provinsi, adalah pukulan berat buat kami di daerah. Asal anda tau, gaji para guru daerah, dipotong hanya untuk kegiatan yang katanya ingin mendulang prestasi siswa. Atas fakta proses,  tahapan, metode, teknis pertandingan yang syarat kepentingan ini, akan menjadi catatan prinsip kami. Ke depan kami juga akan sangat mempertimbangkan kehadiran atlit beserta pendamping/guru/pelatih pada ajang kegiatan O2SN di tingkat provinsi”, terang pejabat teras tersebut.

Sementara sejumlah atlit dan pendamping yang pernah diikutsertakan dalam ajang O2SN ditingkat nasional mengatakan pengalaman keikutsertaan di O2SN Nasional adalah sebagai pengalaman yang tidak mengenakkan. Banyak sekali pendamping dari dinas P&K provinsi yang diikutsertakan panitia. Padahal kehadiran mereka tidak memberikan pengaruh positif terhadap prestasi atlit.

“kami para atlit dan pendamping di rumahkan pada hunian hunian sederhana. Sementara orang dinas dan panitia, bermukim di hotel hotel mewah. Tragisnya lagi, kesejahteraan atlit jauh dari perhatian mereka. Kami lalu berpikir, kalau polanya seperti ini prestasi apa yang mau didapat. Apa yang mau dibanggakan pemerintah provinsi jika anggaran besar hanya untuk kesenangan penyelenggara”, tuding mereka.

Sejumlah pengakuan atlit yang didapat fajartimor, bahwa kostum yang diadakan panitia penyelenggara untuk keikutsertaan di ajang O2SN makasar, adalah yang berkualitas rendah, dan harganya berkisar antara Rp 25 ribu hingga 75 ribu.

“Dengan kondisi pengadaan barang yang seperti ini, akan berpengaruh pada prestasi atlit. Sebabnya bukan soal penampilan. Tapi penampilan juga menjadi hal yang prinsip dan penting di ajang O2SN tingkat nasional. Masa atlit O2SN NTT berpenampilan rendah dan memalukan? Dan apakah benar pemerintah daerah tidak mendanai kegiatan ini?”, cibir sejumlah atlit diamini para pendampingnya.

Terkait persoalan tersebut, Kadis P&K, Drs. Sinun Petrus Manuk yang hendak dimintai tanggapannya  via medium telephon selular, tidak sedikitpun memberikan respon berarti. Mungkin juga benar, hasil di kali, dari hitungan dua tamba dua sama dengan empat adalah pasir, batu, kerikil, udang, kepiting, kayu dan lain sebagainya(ft/bony)

  • Share