O2SN NTT, Syarat Rekayasa Pengaturan Skor?

  • Share

Kupang, fajartimor.net-Aroma Rekayasa pengaturan skor pada kegiatan Olympiade Olahraga Siswa Nasional yang dihelat di Prov.NTT rupanya bukan isapan jempol belaka. Bukti rekayasa tersebut justru dipertontonkan Panitia O2SN di Aula Komodo.

Koordinator Perwasitan yang ditunjuk Panitia pada laga final Karate tingkat SMA justru tidak sedikitpun memahami aturan perwasitan dan sejumlah regulasi terbaru. Mirisnya lagi, sejumlah wasit yang diturunkan Panitia pada laga final antara atlit Karate Kota Kupang versus Kabupaten TTS ( Jum’at, 26/6 ), justru jauh dari harapan aturan apalagi pemahaman tentang teknik bertanding.

Marselinus Ome, pemerhati sekaligus pegiat seni bela diri Karate Kota Kupang geram dan angkat bicara. Kepada media ini, bertempat di kediamannya Opa Linus yang akrab di sapa mengatakan bila dugaan rekayasa pengaturan skor pada laga final karate tingkat SMA jelas jelas dipertontonkan Pantia penyelenggara O2SN. “Koq aneh! Teknik bela diri yang diturunkan secara berjenjang yang diakui Dunia dan Nasional justru diabaikan tim wasit. pada laga final tersebut. Yang lebih menggelitik, Koordinator perwasitan yang ditunjuk Panitia sama sekali tidak paham regulasi, ini khan namanya uang negara digunakan hanya untuk berkasih kasihan”, tuding Ome.

Dikatakan teknik bertanding yang diperlihatkan atlit Kota Kupang, atas nama Paskalis Meni Romi Pori Ome versus penantangnya dari Kabupaten TTS, sama sekali tidak digubris Tim Wasit dan wasit pertandingan. “yang dituntut dalam Olahraga Bela Diri adalah kemampuan mengolah teknik teknik bertanding. Minimal standar dan bukan kampungan. Ini khan seni bela diri. Kalau ukuran matras pertandingan saja tidak diketahui koordinator perwasitan apalagi seni bertanding? Saya harus maklum saja, karena bentuk protes terbaru dengan menggunakan kartu dan bukti rekaman saja tidak dipahami Panitia dan tim wasit.  Dan kalau begini caranya mau dikemanakan olahraga NTT?, kicau Ome.

Lebih jauh dijelaskan angka yang sebelumnya didapatkan atlit Kota Kupang atas nama Meni Pori Ome yang perolehannya jauh diatas penantangnya dari SoE, justru yang tertera di papan skor malah terbalik. “selain mencari atlit atlit terbaik NTT, pendidikan karakter, tingkah laku dan moralitas menjadi target dari kegiatan O2SN ini. Tapi dengan kondisi dan realita seperti ini, saya kira pendidikan di NTT akan jauh dari harapan. Karena setiap yang dilakukan ujung ujungnya rekayasa, tukar guling dibelakang meja wasit dan panitia dan berakhir di duit. Asumsi saya soal dugaan rekayasa pengaturan skor adalah sesuatu yang benar dan tidak mengada ada. Karena bukti lainnya sejumlah kabupaten tidak mengirim atlitnya pada O2SN kali ini. Mungkin juga karena mereka pernah punya pengalaman  pahit”, urai Ome. (ft/Rb)

  • Share