‘Paket MS-EMI Bidik Swasembada Telur’

  • Share

Kupang, fajartimor.net – Dikala paket calon Gunernur-Wakil Gubernur memfokuskan program berskala makro dan utopis, paket MS-EMI justru depankan program mikro berdampak makro. Swasembada Telur menjadi salah satu target program keberpihakan.

Hal tersebut disampaikan Patrianus Lali Wolo, Korwil pemenangan Paket MS-EMI (Marhaen) secara lugas kepada fajartimor belum lama ini.

Menurutnya Telur ayam sebagai sumber protein selain Daging dan Susu, harus menjadi primadona usaha petani peternak di Nusa Tenggara Timur.

“Harus dicatat, konsumsi perkapita telur ayam di Nusa Tenggara Timur, sekitar 30 an butir sampai 40 an butir perkapita pertahun. Itu artinya NTT hanya lebih baik dari Papua dan Papua Barat”, jelas Patris.

Dari hitungan jumlah penduduk NTT 5 juta lebih katanya, dengan perbandingan satu juta kepala keluarga, maka dapat dipastikan konsumsi telur per bulannya perorang itu sekitar 4 sampai 5 butir.

“Kalau dalam satu keluarga itu ada 5 orang, dirata ratakan mengkonsumsi telur cukup 4 butir  maka dapatnya 20 butir. Jika 20 butir telur di kali dengan satu juta KK maka kebutuhan telur per bulannya 20 juta butir”, ulas Patris.

Dikatakan, harga telur yang selama ini di beli ditingkat eceran sebesar Rp 2000 rupiah itupun berdasarkan harga dan ketersediaan yang masih berpegantung kepada pasokan dari luar NTT.

“Estimasinya sederhana saja, Satu juta KK di kali 20 butir, sama dengan 240 dibagi 365 hari maka per hari per orangnya mengkonsumsi 0, 65 gram telur yang menjadi salah satu sumber protein”, terang Patris.

Dengan demikian lanjut ketua Tim Pemenangan Paket PAS Nagekeo ini, konsumsi telur ayam di NTT butuh 20 juta butir per bulan. Jika ini tercapai dengan estimasi hanya mencapai 5 juta butir per bulan maka ada devisit 15 juta butir telur per bulan.

“Bila di konversi dengan harga 2000 rupiah perbutir di kali 15 juta maka uang rakyat yang akan beredar di luar NTT itu sebesar Rp 30 miliar. Dan bila di kali lagi dengan 12 bulan maka ada sebesar Rp 360 miliar per tahun uang rakyat yang beredar di luar NTT”, tandas Patris.

Calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTT unjuknya yang di usung PDI Perjuangan dan PKB akan serius menangani target program Swasembada Telur Ayam.

Warga Oesoko Biboki Ainleu-TTU pendukung fanatik MS-EMI terlihat takjub mendengar orasi politik Emilia Julia Nomleni (foto/dok.Boni Lerek)

“Mimpi besar paket MS-EMI, sebesar Rp 360 miliar harus bisa beredar di sakunya petani NTT. Oleh karena itu langkah produktifnya yakni akan ada sonasi pengembangan ternak ayam petelur di NTT agar swasembada telur bisa tercapai, selain Daging, Susu dan sumber sumber protein lainnya”, sigap Patris.

Secara teknis ucapnya, soal bagaimana anggaran di plotkan untuk usaha ini, bagaimana dampingan teknologinya, bagaiamana kerja sama dibangun dengan pihak ketiga yang punya teknologi tersebut agar bisa membantu secara signikan para petani dan nantinya berdampak ekonomis adalah kiat besarnya.

“Tentunya dinas peternakan perlu didorong agar mampu membuka sekaligus membangun sonasi peternakan ayam petelur di berbagai daerah di NTT yang layak, ada dampingan secara terus menerus dan kemudian menembus pasar produksi baik pasar tradisional, modern termasuk bisa mengekspor ke negara tetangga semisal Timor Leste yang kini sudah dalam kerja sama bilateral dengan Indonesia dan NTT secara khusus”, urai Patris.

Skala perbandingan dengan negara lain tambahnya wajib menjadi referensi dan pemicu tercapainya swasembada telur ayam.

“Kalau kita banding dengan data dunia, cukup asia saja, kita hanya lebih baik dari Vietnam. Namun yang berkembang sekarang Vietnam justru sudah melampaui Indonesia. Sementara Amerika sudah diatas 500 butir perkapita pertahun. Malaysia 300 butir perkapita pertahun, sementara Thailan, Filipina sudah 200 lebih butir perkapita pertahun”, ungkap Patris.

Anggota Fraksi PDI Perjuangan yang sudah makan garam dengan usaha ayam pedaging juga ayam petelur dan berbagai usaha lainnya meyakinkan bahwa bila swasembada telur ayam tercapai maka hampir bisa dipastikan peredaran uang ditangan rakyat NTT akan semakin menggembirakan. Karena ikutannya lapangan pekerjaan dengan sendirinya akan terserap. Orang kemudian akan terus melihat peluang pasar sambil membuka usaha holtikultura demi menjawab tekanan ekonomi yang semakin mengglobal.

“Prinsip utamanya, NTT harus swasembada telur ayam. Uang sebesar Rp 360 miliar, wajib ada di saku petani peternak di NTT. Jika memungkin bisa melebihi Rp 360 miliar. Dan itu sudah target paket MS-EMI”, pungkas Patris. (ft/boni)

  • Share