‘Partai-Ku Partai-Mu, ‘Marhaenis Adanya’

  • Share

Fajartimor.com – Pesan pergerakan dan perjuangan dari seluruh partisan dalam bingkai Demokrasi  Indonesia Raya sebenarnya terlahir dari cetusan ide dan pergerakan seorang Soekarno yang kala itu mendirikan Partai Nasional Indonesia.

Ideologi Marhaenis yang menjadi alat perjuangan dan pergerakan PNI tersebut bermula dari pertemuannya dengan seorang ‘Aen’ (tahun 1926/1927) yang biasa disapa ‘Mang Aen’. Mang Aen oleh Bung Karno kemudian dipandang sebagai perwujudan nyata dari kumpulan orang orang kecil (Petani, Petani Nelayan dan Buruh) yang semestinya diberi ruang perjuangan dalam perjuangannya mengisi Kemerdekaan Indonesia membendung ketertindasan dari semangat superioritas Kaum Borjouis dan Kapitalis.

Alhasilnya Ideologi Marhaenis selanjutnya di kumandangkan Sang Proklamator, Bung Karno pada pidato pertamanya di tahun 1930. Dan pada tahun 1932 Marhaenis kemudian dipakai sebagai ideologi pergerakan Partai Nasional Indonesia.

Gejolak Kepartaian yang diretas Bung Karno tersebut kemudian memunculkan multi partai disertai ideologi pergerakannya.

Di Era Orde Baru sepanjang perjalanan 32 tahun, multi partai terpasung dan hanya memunculkan tiga partai berkuasa.

Pergerakan dan perjuangan Kaum Marhaen yang meninggalkan luka mendalam persisnya di jalan Diponegoro nomor 58 Jakarta pada Sabtu 27 Juli 1996 yang dikenal dengan Jargon ‘Kudatuli’ justru berujung munculnya kembali multi partai.

Ini fakta sejarah perjuangan Marhaen siapapun dia tidak mungkin bisa memungkiri hal tersebut.

Pandangan Bung Karno yang tidak terelakkan ketika kahadiran multi partai yang mendapat dukungan penuh dari kaum Petani dan Buruh berada pada aras tiga pra syarat yakni :

Syarat pertama, setiap partai kaum marhaen harus menjalankan machtvorming: pembuatan tenaga, pembuatan kuasa. Machtvorming penting, kata Bung Karno, karena adanya pertentangan kepentingan antara sana dan sini (kita dan musuh).

Syarat kedua, Dalam menjalankan pertentangan (antitesa) antara  sana dan sini, partai kaum marhaen haruslah menjalankan radikalisme: perjuangan yang tidak setengah-setengah, apalagi tawar-menawar, yakni perjuangan yang hendak menjebol kapitalisme-imperialisme hingga ke akar-akarnya.

Syarat ketiga, untuk menjelmakan machtvorming yang berazaskan radikalisme itu, maka partai kaum marhaen haruslah menjalankan massa aksi . Di sini, massa aksi diartikan sebagai aksinya rakyat jelata yang sudah tersadarkan: marhaen yang sadar bahwa untuk mengakhiri ketertindasan, maka harus menjebol masyarakat lama dan membangun masyarakat yang baru. (tulisan Kusno pada Berdikarionline-berpikir maju)

Berangkat dari dasar berpikir yang ditawarkan Bung Karno bila diselaraskan dengan pertentangan Sana Sini soal siapa yang layak diusung menjadi pemimpin sekelas Gubernur, Bupati/Walikota terlihat jelas. Perjuangan para Kandidat dan pendukung Marhaenis-nya merupakan gambaran fakta kekinian. Aksi dukungan yang dilakukan entakah itu spontan ataupun dirancang secara sistimatis rupanya menjadi bagian dari upaya agitatis kaum Marhaenis (rakyat).

Kini sejumlah partai pengusung lagi diuji keberpihakkannya. Partai manakah yang loyalis terhadap harapan dan keinginan Petani dan Buruh (Proletar) yang menjelma dalam diri pengurus partainya (mesin partai)? Dan Partai manakah yang sudah dan sementara terpaku pada keinginan semata kaum Borjouis dan Kapitalis.

Karena ujung dari sebuah keputusan akan berakibat sukses ataupun merana. Hal tersebutpun jauh jauh hari telah diingatkan Kol. (Inf.) Soegiarso Soerojo,yang diketahui sebagai salah seorang perwira intelijen, Dalam bukunya “Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai

 ‘Kaderisasi Demi Rumah Masa Depan Marhaenis’

Hal prinsip yang tidak bisa disepelehkan, semua partai Marhaen yang sudah mapan dan lagi berkembang justru diperhadapkan pada dilema prasyarat seperti yang sudah diisyaratkan Bung Karno.

Perkuatan tenaga dengan membentuk kepengurusan partai sampai ke tingkat RT/RW menjadi kerja besar partai partai Marhaen.

Doktrin doktrin soal semangat hidup berpartai dan subangsi politik dari kaum petani dan buruh dalam segala aktivitasnya dengan memberi tekanan kritis terhadap penyelenggaraan pemerintahan adalah nilai juang yang tidak bisa ditawar.

Lainnya lagi Kaderisasi kemudian ditemukan sebagai alat pergerakan dan perjuangan mempertahankan sekaligus sebagai bagian tanggungjawab menumbuhkembangkan Ideologi Marhaenis.

Pelatihan Kader berdasarkan fase pengkaderan hampir menjadi rutinitas aksi. Kesemuanya itu dimaksud untuk terus mempertahankan rumah masa depan Marhaenis.

Namun satu hal yang tidak bisa diingkari, untuk mendapatkan kepemimpinan baru yang terlahir dari kumpulan Petani dan Proletar (yang telah dibentuk dalam sistim kaderisasi secara berjenjang, red) mungkin hanya slogan masa. Teori dan retorika hanyalah pengalas asa karena yang terjadi Koin (Uang) kini adalah pelumas tujuan.

Sisi yang tak terhindar iklas yakni, Partai-Ku dan Partai-Mu adalah kumpulan pergerakan dan perjuangan kaum Marhaenis demi  memupus superioritas Borjouis dan Kapitalis.

Mungkin juga karena terinspirasi : “Dahulu, jaman kolonialisme, orang bikin partai sebagai alat perjuangan. Hampir semua partai punya embel-embel “pergerakan”. Ringkasnya, kalau partai  tidak menjadi alat pergerakan, ya, tidak keren.  Lengkap dengan ideologi pergerakannya. (Bung Karno)” (Berdikarionline-berpikir maju), uniknya sekarang partai dan kadernya hanyalah pelengkap penderita demi mengisi ruang demokrasi yang sudah diamanatkan undang undang.

Yang tertinggal kini dan akan datang ‘Partai-Ku Partai-Mu memang Marhaenis Adanya’ dan akan terus saja begitu adanya. (boni lerek)

  • Share