Patrianus Laliwolo: ‘Soal Sawah Baru Di Mbai Kiri’ Masyarakat Nagakeo Perlu Tahu Peruntukkannya.

  • Share

Kupang, fajartimor.net-Program Pemerintah Nagakeo melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan dalam meretas Lahan Persawahan di Mbai Kiri seluas 315 hektar disambut positif. Gejolaknya, peruntukkan Areal Sawah Baru itu masih diperdebatkan warga setempat!

Mungkin yang perlu digagas pemerintah setempat adalah mendekatkan program cetak sawah seluas 315 hektar di daerah Mbai Kiri melalui pola sosialisasi secara terus menerus dan berkelanjutan. Bahwa soal urgensinya, untuk apa dilakukan, kapan dilakukan, muarahnya akan kemana (baik peruntukkan, kepentingan sekarang dan akan datang), juga akan seperti apa prospeknya, sepatutnya menjadi pengetahuan warga setempat, jelas Patrianus Laliwolo, Anggota DPRD Provinsi, Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) kepada fajartimor belum lama ini.

Menurutnya, keluhan yang disampaikan warga Mbai kepada dirinya saat reses DPRD, menjadi tanggungjawab yang perlu dan penting disuarakan, agar diketahui pemerintah setempat.

“Saya tidak dalam kapasitas mengintervensi setiap program pemerintah daerah. Namun ketika ada harapan besar warga Mbai tentang peruntukkan cetak sawah baru di Lokasi Mbai Kiri seluas 315 hektar, melalui para wakilnya di parlemen (dalam tanda petik bersuara lantang untuk rakyat yang tidak mampu bersuara), justru memicu saya untuk ikut menyuarakan hal tersebut”, tegas Laliwolo.

Sambutan positif yang ditunjukan warga, kata Laliwolo adalah entri poin yang kemudian diikuti dengan penjelasan pemerintah soal apa pentingnya, untuk apa hal tersebut dilakukan, dan akan kemanakah akhir dari program tersebut.

“Kita justru berharap, pemerintah melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan, dalam menjalankan kegiatan cetak sawah di Mbai Kiri, berlaku komunikatif dengan warga setempat baik di daerah Mbai Kiri dan Mbai Kanan. Hemat saya, harus ada penjelasan kunci soal keterlibatan warga dalam mengolah dan mengelolah sawah baru tersebut. Itu artinya, Pemilik Tanah Ulayat yang terkena dampak dari cetak sawah seluas 315 hektar, para Tokoh Masyarakat dan warga perlu didudukkan dalam satu lingkaran sosialisasi dan penjelasan akuntabel (bertanggungjawab) agar dipahami dan diterima. Hal lainnya yang penting adalah perlu adanya kesepakatan dan kesepahaman bersama yang dituangkan dalam Nota Kesepakatan antara Pemerintah Daerah, Pemilik Tanah Ulayat, Tokoh Masyarakat dan Perwakilan Warga (Mbai Kiri dan Mbai Kanan). Hitungannya, kedepan tidak meninggalkan persoalan pelik yang berujung konflik horisontal”, papar Laliwolo.

Yang luar biasa dari program cetak sawah tersebut puji Laliwolo, yaitu adanya ketersediaan lahan garapan baru bagi warga dan usaha pemerintah dalam menjawab ketersediaan stok beras.

“Program cetak sawah seluas 315 hektar di Mbai Kiri tersebut justru menambah luas areal persawahan di Nagakeo (dari sebelumnya 6000 hektar di Mbai Kanan akan bertambah luas menjadi 9000 hektar lebih). Faktor lainnya, lapangan pekerjaan akan sangat terbuka bagi warga yang sama sekali belum memiliki areal garapan sawah dengan pengaruh positifnya yaitu berkurangnya angka pengangguran dan tingkat ketergantungan hidup Kepala keluarga (KK) baru. Selebihnya, sentuhan dari sejumlah tangan dingin dan iklas yang ditunjukkan dengan diadakannya Tracktor, Pupuk pilihan dan benih Padi Unggul juga sistim pengairan terpadu dan berkelanjutan akan memicu produktifitas stok beras bagi warga dan masyarakat setempat. Bila ini yang menjadi keutamaan maka saya kira program pro rakyat tersebut layak didukung”, pungkas Laliwolo. (ft/boni)

  • Share