Pipa Air Senilai Rp 36 M Milik UPTD Air Bersih Provinsi NTT Mubazir

  • Share

Pipa air yang dipasang oleh Unit Pelaksana Tugas Daerah (UPTD) Air Bersih Provinsi NTT senilai Rp 36 milyar yang membentang dari Baumata hingga Kota Kupang mubazir alias tidak dimanfaatkan. Pipa Air berukuran 10 dim dari proyek pengadaan dan pemasangan pipa transmisi yang didanai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2009 dan 2011 tersebut dibiarkan begitu saja tanpa ada proyek lanjutan untuk mengalirkan air kepada warga Kota Kupang yang selalu kekurangan air setiap musim kemarau.

Berdasarkan investigasi fajartimor.net, pipa transmisi tersebut mulai dibangun pada tahun 2009 dengan dana sekitar Rp 4 milyar. Jalur pipa tersebut dipasang dari depan Polres Kupang Kota menuju Bundaran PU – melalui Jl. Bundaran PU (Kelurahan Tuak Daun Merah) hingga pertigaan menuju Naimata (cabang arah Naimata).

Sumber fajartimor.net yang tak mau namanya disebut, mengatakan, pelaksanaan proyek tersebut tanpa perencanaan yang baik. “Perencanaannya tidak jelas. Proyek tersebut hanya sekedar untuk ‘menangkap’ dana  ‘nganggur’ dari pemerintah pusat di akhir tahun anggaran. Digunakan atau mubazir, itu urusan nanti. Yang penting dananya ‘ditangkap’ dan proyeknya dilaksanakan,” ujar sumber yang sudah banyak ‘makan garam’ dalam urusan perpipaan air bersih tersebut.

Lucunya, lanjut sumber itu, untuk mengelabui masyarakat dan aparat penegak hukum, saat itu (akhir tahun 2009, red) pipa logam dengan ukuran 10 dim tersebut disambungkan ke pipa ukuran 8 dim milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Kupang. “Penyambungan tersebut illegal karena tanpa persetujuan PDAM Kabupaten Kupang,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, agar air dapat mengalir dengan sistim gravitasi maka air harus dialirkan dari pipa yang besar ke pipa yang lebih kecil. “Bagaimana bias ada tekanan air kalau air mengalir dari pipa yang kecil menuju ke pipa yang besar. Itu hanya akal-akalan pelaksana proyek untuk mengelabui masyarakat dan aparat penegak hukum,” tandasnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun fajartimor.net, proyek senilai Rp 4 M ini sempat diselidiki pihak Polres Kupang Kota namun hingga saat ini tidak pernah ada kelanjutan dari kasus tersebut. Kasus tersebuk bak hilang ‘ditelan bumi’. Mengapa?

Pada tahun 2011, lanjutnya, pemerintah pusat kembali mengalokasikan dan Rp 32 milyar untuk pengadaan dan pemasangan pipa air bersih di Kota Kupang melalui UPDT Air Bersih Provinsi NTT. Pada proyek tahun 2011 tersebut, dipasang pipa karet buatan china yang dilapisi keramik di dalamnya dari reservoir PDAM Kabupaten Kupang di Baumata menuju Kota Kupang. Pemasangan pipa transmisi ini melalui dua jalur, yakni 1) dari Baumata melalui Kelurahan Penfui – Jl. Adisucipto -Jl. Frans Seda – Masuk ke reservoir di Kelurahan Oesapa Selatan – lalu ke Jl. Piet A. Tallo hingga Taman Nostalgia. 2) dari Baumata melalui Kelurahan Penfui – Kelurahan Naimata – Jembatan Liliba kecil hingga pertigaan Jl. Bundaran PU  dan arah Naimata. Di Pertigaan ini, pipa karet tersebut disambungkan dengan pipa logam dari proyek senilai Rp 4 milyar tahun 2009 (sambungan dengan pipa 8 dim milik PDAM Kabupaten Kupang dilepas, red). Dari pertigaan tersebut, pipa karet itu dipasang melalui Jl. W. J. Lalamentik hingga Kelurahan Oebobo.

“Proyek lanjutan senilai Rp 32 milyar tahun 2011 tersebut juga tidak melalui perencanaan yang matang alias asal ‘tangkap’ dana pusat. Buktinya, pengelola proyek tidak melakukan survey untuk mendapat sumber air baru dan membuat alur baru pemasangan pipa tersebut. Mereka hanya mendompleng alur pipa PDAM Kupang yang sudah ada. Untuk apa memasang pipa transmisi dari sumber air yang sama dengan PDAM Kupang dan juga melalui alur yang sama dengan pipa transmisi milik PDAM Kupang? Itu kan mubazir,” ungkapnya.

Ia sangat menyayangkan proyek senilai Rp 36 milyar tersebut tidak dapat menyelesaikan atau setidak-tidaknya mengurangi masalah kekurangan air bersih di Kota Kupang. “Saya merasa aneh, perencanaan seperti apa yang dipakai UPTD Air Bersih Provinsi NTT. Apakah mereka sudah punya masterplannya? Atau hanya sekedar kerja asal jadi? Kantong ‘tebal’ tapi masyarakat Kota Kupang merana,” kritiknya.

Seperti disaksikan fajartimor.net, pipa karet tersebut dapat dilihat dengan sangat jelas pada sisi utara Jembatan Liliba, Kota Kupang. Pipa karet tersebut membentang di atas jembatan gantung yang dibuat khusus untuk menyambung pipa tersebut dari kedua sisi jembatan.(ft/tim)

  • Share