Proyek Dermaga Pamakayo Gunakan Pasir Berdebu

  • Share
pasir berdebu
Berdebu : Pasir yang digunakan PT Linggarjati Perkasa pada pekerjaan proyek Dermaga desa Pamakayo,Kecamatan Solor Barat Teryata Berdebu (Foto Eni Fajartimor.com)

Larantuka, fajartimor.net – Pengerjaan Proyek Dermaga di desa Pamakayo,Kecamatan Solor Barat menuai protes. Proyek yang dikerjakan oleh PT Linggarjati Perkasa ternyata  menggunakan pasir bercampur debu.

Kenyataan tersebut mengundang respon warga setempat yang memprotes sikap pihak pelaksanaa proyek yang terkesan ingin mengmabil keuntungan sepihak dan mengabaikan kualitas fisik proyek.

Robet Ledor,salah seorang warga desa Pamakayo,kepada fajartimor.net belum lama ini mengungkapkan dirinya telah berkali-kali mengingatkan kontraktor pelaksana proyek tersebut untuk menghentikan penggunaan pasir tersebut,sebab sangat tidak bermutu untuk pembangunan infrastruktur apalgi yang berhubungan dengan fasilitas kelautan.

“Untuk urusan pembangunan saja,pasir Liko kami tidak gunakan,karena lebih banyak mengandung debu tanah.Secara pribadi saya senang dan bangga akan perhatian Pemkab Flotim dan Pemerintah Pusat,terutama Kementerian Daerah Tertinggal sebagai pemilik proyek yang telah memperhatikan desa kami.

Tapi harus diperhatikan aspek kualitas bangunan bukan asal-asalan seperti ini.Jangan hadiahi kami dengan fasilitas yang tak bermutu.Saya berkali-kali mendesak agar mereka tidak menggunakan material pasir tersebut,” papar Robet seraya meminta pihak kontraktor beralih menggunakan pasir Nobo.

Kontraktor pelaksana proyek berbiaya Rp.23.552.866.787, Farid Masyudi yang dikonfirmasi secara terpisah dilokasi proyek belum lama ini membenarkan protes warga tersebut.Pihaknnya berjanji akan segera menggantikan material pasir Liko dengan pasir dari Nobo.

”Konsen kami adalah kerja dengan selalu memperhatikan mutu pekerjaan.Memang benar ada warga yang minta kami untuk tidak menggunakan pasir Liko,padahal dari hasil uji laboratorium,pasir tersebut berkualitas baik.Tapi karena permintaan warga,kami akan turuti,”tegas Farid.

Berbeda dengan Farid Masyudi,Kepala Dinas PU Tamben Flotim,Ir Jhon Fernandes yang dikonfirmasi diruang kerjanya,Selasa (12/8) malahn kagetkaget dengan kenyataan penggunaan pasir Liko tersebut.

Menurut orang pertama di lingkup PU Tamben Flotim itu,walaupun pihak kontraktor telah melalui tahapan uji laboratorium versi mereka,namun harus tetap mengujinya di laboratorium milik pemerintah.

“Mereka harus mengujinya lagi di laboratorium milik pemerintah yakni Laboratorium PU Propinsi NTT di Kupang.Untuk urusan pembangunan di Flotim,kita cuma memiliki pasir Nobo yang telah terbukti sungguh baik,kenapa mereka menggunakan pasir Liko yang dominan memili unsur humus tanah?

Dermaga menanga saja,kontraktor menggunakan pasir Nobo dan pasir yang didatangkan dari Lembata.Kita akan menyurati pihak kontraktor untuk menggunakan pasir Nobo,”tegas Jhon Fernandes.

Walaupun tak mengetahui ihkwal proyek tersebut,lantaran proyek tersebut adalah proyek pusat (KPDT) yang bersumber dari APBN Tahun anggaran 2014,namun demi menjaga mutu pekerjaan,Jhon Fernandes tak mampu menyembunyikan ekspresi marahnya dan langsung menugaskan stafnya untuk mengecek dari dekat pekerjaan dermaga itu. (ft/Eni)

  • Share